Psikiater dan keterbatasan akses layanan kesehatan mental di Indonesia memang menjadi tantangan yang serius. Menurut data Kementerian Kesehatan, Indonesia hanya memiliki sekitar 800 psikiater untuk lebih dari 260 juta penduduk. Hal ini berarti rasio psikiater per penduduk di Indonesia sangat rendah dibandingkan dengan negara-negara maju lainnya.
Dr. Nova Riyanti Yusuf, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), mengatakan bahwa keterbatasan jumlah psikiater menjadi salah satu hambatan utama dalam memberikan layanan kesehatan mental yang berkualitas. “Kami terus berupaya meningkatkan jumlah psikiater di Indonesia, namun hal ini memerlukan waktu yang tidak sebentar,” ujarnya.
Selain keterbatasan jumlah psikiater, akses layanan kesehatan mental di Indonesia juga terhambat oleh faktor geografis dan sosial ekonomi. Banyak masyarakat di pedesaan atau daerah terpencil tidak memiliki akses yang memadai ke layanan kesehatan mental. Hal ini menyebabkan banyak orang dengan gangguan mental tidak mendapatkan diagnosis dan perawatan yang tepat.
Menurut Prof. dr. Tjhin Wiguna, M.Med.Ed., Sp.KJ(K), seorang pakar kesehatan mental dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, solusi untuk mengatasi keterbatasan akses layanan kesehatan mental di Indonesia adalah dengan meningkatkan kerjasama antara pemerintah, LSM, dan sektor swasta. “Kita perlu memperkuat sistem rujukan, memberikan pelatihan kepada tenaga kesehatan primer, serta meningkatkan literasi kesehatan mental di masyarakat,” tuturnya.
Sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar, Indonesia memang memiliki tantangan tersendiri dalam menyediakan layanan kesehatan mental yang berkualitas. Namun, dengan kerjasama yang baik antara berbagai pihak dan upaya yang terus-menerus, kita dapat mengatasi keterbatasan akses layanan kesehatan mental di Indonesia demi kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.